Ramah Lingkungan? Berikut 7 Cara Penerapannya

Tahukah Anda bahwa slogan 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang sering kita dengar, bukan sekedar slogan. Dengan mempraktikkan setidaknya satu dari ketiga bagiannya, kita sudah berperan membantu kelangsungan lingkungan. Contohnya adalah mengurangi sampah. Tahukah bahwa dalam satu tahun, setiap orang rata-rata menghasilkan sampah sebanyak 7 kali massa tubuhnya sendiri.

ramah_lingkunagan_logogambar_manusia_ramah_lingkungan


gambar_plastik_ramah_linkungan

Dimulai dari rumah kita sendiri, kita dapat mengurangi produksi sampah dengan cara-cara yang sederhana. Berikut ini beberapa caranya.
  1. Belilah barang-barang dalam kemasan besar. Dengan begitu, kita dapat mengurangi kemasan yang akan dibuang di tempat sampah.
  2. Sedapat mungkin, hindari penggunaan kantung plastik. Plastik merupakan penyumbang sampah yang sangat besar dan tidak dapat terurai. Untuk membawa barang, gunakan tas kain yang dapat digunakan berulang kali.
  3. Sesedikit mungkin gunakan produk yang sekali pakai. Misalnya, popok, alat cukur, sampai kamera. Setelah digunakan, semua produk itu hanya akan berakhir di tempat sampah.
  4. Pilih produk yang mengandung material daur ulang. Umumnya, terdapat label berupa segitiga berbentuk panah berwarna hijau di produk-produk daur ulang.
  5. Berpikir panjang sebelum membeli barang baru. Pakaian, sepatu dan produk lain yang sering dikaitkan dengan mode dapat membuat kita lebih konsumtif. Belilah benda tersebut saat dibutuhkan, bukan saat sekedar diinginkan.
  6. Alat elektronik yang rusak, jangan langsung dibuang. Upayakan perbaikannya terlebih dahulu. Selain menghemat biaya, cara ini juga mengurangi sampah elektronik, mengingat sampah elektronik termasuk sampah yang berbahaya bagi lingkungan.
  7. Membuat kompos sendiri di rumah. Kumpulkan sampah-sampah organik seperti sisa potongan sayuran dan daun kering ke dalam wadah dan biarkan membusuk dan berbentuk seperti tanah. Sekitar 2 minggu, sampah dapat “dipanen” dan digunakan sebagai pupuk tanaman. Selamat Mencoba!
sumber: harian Kompas,Kamis 2 Februari 2012

3 komentar: